Posted in about love and relationship

Rahasia Patahan Aksara

Sejujurnya aku tak mengerti perihal cinta

Apakah itu rasa ketika aku berdegup, mejemputmu dalam tatap penuh redup ?

Apakah itu rasa antara keberadaanmu yang bahana dan ketiadaanmu yang gulita?

Apakah itu rasa dimana aku berharap memadu genggam lalu menikmati kebersamaan sembari terpejam?

 

Kasih

Tentangmu adalah tentang selaksa misteri yang berkelakar dalam kecamuk dan sebuak abstrak yang tak bisa aku nalar namun terus melecutku selayak cambuk

Menatapmu adalah sebait sajak yang terus aku tolak,namun tetap saja ia merasuk, memaksa masuk selayak ribuan belati yang menghujam pada rusuk

Dan memendam rasa padamu adalah sebuah racun yang aku tahu mematikan namun tetap saja kureguk selayak madu pada bait kematian

 

Lalu dimanakah engkau wahai kasih?

Aku merindumu pada tiap sahaja kesederhanaan yang kau tuturkan pada tiap laku

Aku merindumu demi segala rasa dan siksa yang telah dianugerahkan Pencipta

Aku merindumu sebagaimana bahasa yang dituturkan gersang kepada awan tuk mempertemukannya pada hujan

Namun sungguh kasih

keberadaanmu bagai angin dalam wujudnya pada batas antara ketiadaan

 

Pada ketiadaanmu Masihkah kau peduli wujudku disini?

Menunggumu kembali tanpa peduli ribuan caci

Terbenam pada gelagap, sibuk terbata menalar rasa yang terlanjur jauh membahasa

Tertatih pada tepian senja seraya memadu lamun tentang langgammu yang melantun

Namun semua yang kulakukan serasa padam. Tenggelam pada seringai kebisuan, ataupun teredam oleh tak acuhmu yang termunafikkan

 

Sekarang katakan padaku wahai kasih

Perihal laku yang dapat mengembalikanmu kembali dari padang keterasingan

Atau perihal tutur yang dapat membujukmu melepas topeng kepalsuan

Lalu terbanglah bebas wahai kasih

Menarilah dibawah rintik hujan seperti yang pernnah kita lakukan pada lampau

Atau berlarian pada tanah basah seraya tergelak pada racauanku tentang gurau

Posted in random poetry

Disposisi rasa

serpih-2

Menunggu

Menantimu pada satu temu

Jangan kau kira ini perkara mudah

Menantimu tak semudah menelan ludah

===========================================

Disposisi Rasa (Paradigma Hawa)

Mereka sebut aku Durjana

Merampas hati, melemparnya sirna

Tak acuh bahwa aku pun merana

memilah rasa, menuju peterana

Lalu tahu apa kau perihal serpih

Dan sisiku yang larut terbenam perih

Rasaku pun telah letih

menantimu wahai hati terpilih

Posted in Rework "Antologi sastra hilang"

Lekat

kugenggam namun lepas
kulempar tak hempas
Engkau satu paras penghenti nafas
Dihadapmu aku hilang tak berpulang
Hilangmu bagai air mendulang panas
Rinduku bak hidup menggerogoti tulang
Aku kosong saat kau melompong
Terisi pasir saat kau berdesir
Lalu segala tumpah, pecah
Kala kau tertawan pesona awan

Posted in Rework "Antologi sastra hilang"

Ambigu

Bosan aku menatap jenuh
Tubuh terikat bermandi peluh
Bertapa pada selaksa tanya
Menerka emosi segala asa
“Hai”, kusapa tulus bintang jelata
Apa perlu kutanya pada jelaga ?
Tentang lekang hilangnya terang
Tentang pekat yang seakan tak tersekat
Entahlah, lupakan..
Tak ada yang perlu diluapkan
Aku hanya sebait ambigu yang bertutur pada sisi bisu

~Gavinci~

Posted in Uncategorized

Beku

bekuWaktu memenjaraku pada beku,
dan gigil kerap berhembus menghantu
Mencoba menetes tapi tak bergerak
Mencoba mengalir namun terbata jarak
Hanya terdiam, merasuk memendam
Pada serpih paras yang larut dalam kenang