Posted in book

Kusuma

kusuma

Cinta yang indah adalah ketika kita sengaja membiarkan hati seperti mengalir pada hulu, lalu perlahan terjatuh pada hilir, bukan hati yang sengaja kita paksa jatuh, kala kita kesepian. Memaksa hati berarti memaksa logika untuk mempercayai apa yang sebenarnya tidak kita percayai, memaksa cinta pada apa yang sebenarnya tidak kita cintai. Memang benar ada patahan kata dari sesepuh-sesepuh seperti tresno jalaran soko kulino (cinta berasal dari kebiasaan) namun menurutku lebih indah ketika kita bertemu satu sosok yang tepat di satu waktu yang tak disengaja, atau aku sering menyebutnya sebagai “the one”.

Aku pernah memaksa hati, memaksanya untuk percaya dan mencintai sebuah hakikat keindahan. “Dia” Kusuma, namanya bisa diartikan juga sebagai bunga. Sosoknya cocok dengan namannya, Cantik, Indah dan memikat siapapun yang melihatnya ; tak terkecuali aku. Entah mungkin kagum atau bagaimana, aku terpikat pada pesonanya, walau aku tahu dia bukan “the one” aku memaksa hati untuk jatuh dan mencinta padanya.

Semuanya berjalan baik pada awalnya, aku memujanya dengan senandung-senandung alunan sastra, dan dia menikmatinya. Hampir 4 tahun kami bersama dan pada suatu waktu aku tersadar bahwa hubungan kami adalah hubungan yang kosong ; tanpa isi. Kami sama-sama tersangkut pada sebuah keadaan dimana kami memaksa hati bahwa kami adalah “the one” satu sama lain, tak ada yang bisa jujur karena jujur akan sangat menyakiti pihak lain. Terjebak pada keadaan yang sangat menyedihkan, karena hanya memuja lamanya waktu yang dijalani bersama tanpa berkembang, tanpa bisa menguatkan satu sama lain.

Bersamaku bunga itu seakan kuncup dan nyaris layu, haus akan hujan dan sinar yang akan membuatnya mekar. Pada kala itu, aku membebaskannya, membebaskan kita, membiarkannya terbang bersama terpaan angin untuk berkembang dan mekar ditempat lain, karena Cinta yang baik adalah cinta membebaskan seseorang untuk berkembang, bukan cinta yang memaksa orang untuk terkekang. Maka, selamat tinggal Kusuma, bunga yang pernah mekar pada hati, jika takdir berkehendak, maka kita akan bertemu dan melihat satu sama lain sebagai “the one”.

 

Aku pujangga suram

Tamanku pekat bernafas hitam

Senandungku lekat membuat legam

Namun kau melati

Titipan surga bernafas pelangi

Maka biarlah engkau membumbung tinggi

Bersanding rama-rama membebas hati     

Advertisements

Author:

A wanderer, who wonder about all the things xD write my knowledge into this lovely page

2 thoughts on “Kusuma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s