sakit

 

Aku merasa cinta memiliki sayap, Ia berhak untuk terbang dan mengepak bebas. Tak ada siapapun yang dapat memaksanya untuk berdiam diri dalam sangkar yang sempit. Cinta juga memiliki rasa yang beraneka. Kadang manis, kadang pahit, kadang pula ia masam, tergantung dari siapa yang mencecapinya. Ia datang tiba-tiba seperti mendung yang meawarkan warna abu-abu pada cerahnya awan, tak seperti senja yang selalu mewarna jingga disetiap penghujung petang. Setidaknya rasa itulah yang kurasakan saat bertemu dengan sosoknya.

Namanya Mega, sebuah nama yang bersinonim dengan awan, Nama yang bagiku sempurna untuk menggambarkan sosoknya yang terlihat bebas, namun pada hakikatnya ia masih terikat pada langit. Seperti awan dia selalu anggun, tenang pada laku dan bersahaja lewat tutur. Aku tertawan pada sosoknya yang menawan, seperti gumpal gemawan ia rela memberi teduh kepada jelata-jelata dibawahnya, abai terhadap sakit sengat pijar-pijar surya yang melawan. Sungguh, tak pernah aku melihat awanyang tak berubah menjadi mendung, ia selalu tampak seperti sosok gemawan cerah tanpa kesedihan yang merundung.

Maka padanya sampai saat ini aku titipkan hati bersama ribuan kisah, yang kemudian terpaksa kuterbangkan bersama pesawat kertas dan lampion-lampion cahaya. Karna Awanku pada akhirnya bertemu terik dan melebur bersama hujan. Memang Sakit, namun biarlah cinta itu bebas, tak harus memiliki ataupun dimiliki, mungkin sosoknya telah hilang, namun kisah-kisah bersamanya akan selalu terbang bersama kenang. Memang pahit akan selalu menghantu namun biarlah kupeluk, lalu kulebur satu bersama tubuh yang seakan kosong dan membatu. Karna dari pahit aku belajar sembuh dan dari sakit aku belajar tumbuh.