Posted in book

Sang Putri

yolanda

 

Jika Cinta datang, terbang di hadapmu maka dekaplah dia

Walau disela sayapnya ia menyakitimu”

 

Waktu tak berpulang tak dapat berulang, memenjaramu yang salah menerka pada palung sesal neraka. Mungkin aku terlambat memaknai arti Sesal, aku menyia-nyia waktu dan berujung pada hati yang tak kunjung sembuh membatu. Daripadanya aku belajar bahwa lingkar waktu itu kejam, bak seekor singa dengan seringai bertaring tajam. Mungkin jika aku melupa pada siapa aku masih harus berjuang, aku hendak melempar diriku jatuh kepada jurang, mengakhiri perih sesal yang kekal berulang.

“Dia” kali ini bernama Putri, seperti namanya ia tampak diberkahi dengan gelimang materi dan pesona bak anak seorang raja. Pada laku ia berjalan, banyak jelata yang memujinya ; memujanya. Bahkan tak sedikit pula dari mereka yang berusaha mendekat, namun hanya beberapa yang kemudian bertahan, beberapa lainnya memilih mundur karena merasa rendah dan tak layak bersanding dengannya. Namun aku ; satu diantara sekian juta orang yang mengenalnya tahu betul bahwa apa yang “Nampak” tak selalu bergaris lurus dengan kebenarannya

Takdir mempertemukan kami pada satu hujan lebat. Aku pada kala itu duduk berdiam memandang hujan, menjebak diri pada lamunan-lamunan melompong tak menyadari dia yang duduk dihadapanku sampai pada akhirnya ia menyapa. Sapaan yang ringan, dengan suara yang elok dan nada bersahaja seperti yang biasa ia lontarkan pada pemujanya. Lantas kami pun berbagi bincang, bertukar cerita hingga hujan mereda. Pada hari itu kami pun mahfum, kami salah menerka satu sama lain.

Waktu berlalu memoles kami menjadi sahabat, entah berapa pasang mata nanar yang melihat dengan tatapan marah ketika aku berjalan bersamanya, banyak pula umpatan-umpatan yang kemudian datang lewat surat gelap ataupun perkataan. Tapi itu semua tak lantas membuat kami berjarak. Dibalik sosoknya yang riang,ceria nan bersahaja, dia adalah putri kesepian, tanpa teman untuk diajak berbagi, tanpa saudara untuk berbagi cerita. Hanya padaku dia bisa membagi rahasia-rahasia tergelapnya serta menjadi dirinya sendiri yang tak harus berlaku sahaja. Sungguh, dibalik ketegarannya dia adalah sosok rapuh yang berusaha melawan dunia seorang diri.

Waktu kemudian berlalu kembali, sang putri sekarang putri telah bertemu dengan pangerannya. Pangeran berkuda putih dengan jubah besi yang mengkilat. Sang putri pun telah dibawa oleh pangeran ke Negara dongeng yang nun jauh disana, diluar batas kemampuanku untuk menjejakinya. Aku turut senang, namun jujur, pada relung terdalam aku merasa perih yang teramat. Entah karena aku yang selama ini memendam rasa, entah karena aku tak bisa berbagi lagi dengannya atau entah aku yang tak bisa lagi bersamanya. Hari itu aku mendapat pelajaran hidup terakhir dari sang putri. Jika cinta datang, terbang dihadapmu maka dekaplah dia, walau di sela sayapnya mungkin ia akan menyakitimu. Mungkin ini jua yang dinamakan cinta tak harus memiliki, cinta sejati membiarkan sosok yang dicintainya bebas dan berkembang. Seperti saat engkau meniup bunga dandelion untuk menerbangkannya ke langit luas, atau saat kau melepas kupu-kupu yang telah kau tangkap untuk membiarkannya terbang, bersenang bebas dengan kupu-kupu yang lain.

Posted in book

Kusuma

kusuma

Cinta yang indah adalah ketika kita sengaja membiarkan hati seperti mengalir pada hulu, lalu perlahan terjatuh pada hilir, bukan hati yang sengaja kita paksa jatuh, kala kita kesepian. Memaksa hati berarti memaksa logika untuk mempercayai apa yang sebenarnya tidak kita percayai, memaksa cinta pada apa yang sebenarnya tidak kita cintai. Memang benar ada patahan kata dari sesepuh-sesepuh seperti tresno jalaran soko kulino (cinta berasal dari kebiasaan) namun menurutku lebih indah ketika kita bertemu satu sosok yang tepat di satu waktu yang tak disengaja, atau aku sering menyebutnya sebagai “the one”.

Aku pernah memaksa hati, memaksanya untuk percaya dan mencintai sebuah hakikat keindahan. “Dia” Kusuma, namanya bisa diartikan juga sebagai bunga. Sosoknya cocok dengan namannya, Cantik, Indah dan memikat siapapun yang melihatnya ; tak terkecuali aku. Entah mungkin kagum atau bagaimana, aku terpikat pada pesonanya, walau aku tahu dia bukan “the one” aku memaksa hati untuk jatuh dan mencinta padanya.

Semuanya berjalan baik pada awalnya, aku memujanya dengan senandung-senandung alunan sastra, dan dia menikmatinya. Hampir 4 tahun kami bersama dan pada suatu waktu aku tersadar bahwa hubungan kami adalah hubungan yang kosong ; tanpa isi. Kami sama-sama tersangkut pada sebuah keadaan dimana kami memaksa hati bahwa kami adalah “the one” satu sama lain, tak ada yang bisa jujur karena jujur akan sangat menyakiti pihak lain. Terjebak pada keadaan yang sangat menyedihkan, karena hanya memuja lamanya waktu yang dijalani bersama tanpa berkembang, tanpa bisa menguatkan satu sama lain.

Bersamaku bunga itu seakan kuncup dan nyaris layu, haus akan hujan dan sinar yang akan membuatnya mekar. Pada kala itu, aku membebaskannya, membebaskan kita, membiarkannya terbang bersama terpaan angin untuk berkembang dan mekar ditempat lain, karena Cinta yang baik adalah cinta membebaskan seseorang untuk berkembang, bukan cinta yang memaksa orang untuk terkekang. Maka, selamat tinggal Kusuma, bunga yang pernah mekar pada hati, jika takdir berkehendak, maka kita akan bertemu dan melihat satu sama lain sebagai “the one”.

 

Aku pujangga suram

Tamanku pekat bernafas hitam

Senandungku lekat membuat legam

Namun kau melati

Titipan surga bernafas pelangi

Maka biarlah engkau membumbung tinggi

Bersanding rama-rama membebas hati     

Posted in book

Awan

sakit

Aku merasa cinta memiliki sayap, Ia berhak untuk terbang dan mengepak bebas. Tak ada siapapun yang dapat memaksanya untuk berdiam diri dalam sangkar yang sempit. Cinta juga memiliki rasa yang beraneka. Kadang manis, kadang pahit, kadang pula ia masam, tergantung dari siapa yang mencecapinya. Ia datang tiba-tiba seperti mendung yang meawarkan warna abu-abu pada cerahnya awan, tak seperti senja yang selalu mewarna jingga disetiap penghujung petang. Setidaknya rasa itulah yang kurasakan saat bertemu dengan sosoknya.

Namanya Mega, sebuah nama yang bersinonim dengan awan, Nama yang bagiku sempurna untuk menggambarkan sosoknya yang terlihat bebas, namun pada hakikatnya ia masih terikat pada langit. Seperti awan dia selalu anggun, tenang pada laku dan bersahaja lewat tutur. Aku tertawan pada sosoknya yang menawan, seperti gumpal gemawan ia rela memberi teduh kepada jelata-jelata dibawahnya, abai terhadap sakit sengat pijar-pijar surya yang melawan. Sungguh, tak pernah aku melihat awanyang tak berubah menjadi mendung, ia selalu tampak seperti sosok gemawan cerah tanpa kesedihan yang merundung.

Maka padanya sampai saat ini aku titipkan hati bersama ribuan kisah, yang kemudian terpaksa kuterbangkan bersama pesawat kertas dan lampion-lampion cahaya. Karna Awanku pada akhirnya bertemu terik dan melebur bersama hujan. Memang Sakit, namun biarlah cinta itu bebas, tak harus memiliki ataupun dimiliki, mungkin sosoknya telah hilang, namun kisah-kisah bersamanya akan selalu terbang bersama kenang. Memang pahit akan selalu menghantu namun biarlah kupeluk, lalu kulebur satu bersama tubuh yang seakan kosong dan membatu. Karna dari pahit aku belajar sembuh dan dari sakit aku belajar tumbuh.

Posted in book, Uncategorized

Chocolate

chocolate.jpg

Kini aku mengerti, walau mungkin sudah terlambat.

Aku mengerti bahwasanya cinta itu bebas, maka sepantasnya aku menjadikannya pembebas

Aku mengerti bahwasanya cinta itu kuat, maka sepantasnya aku menjadikannya penguat

Aku mengerti bahwasanya cinta itu lekat, maka sepantasnya aku menjadikannya perekat

Cinta bukanlah dunia yang monoton…

Dimana aku harus menyukai music rock yang selalu kau dengarkan dipagi hari

Cinta itu berwarnanya aneka, tak harus sama

Seperti engkau yang memilih pekat dan pahitnya kopi, sedangkan aku memilih kental dan manisnya coklat

Bukankah menyenangkan, kita yang berkembang ketika saling melihat dunia yang berbeda ?

Ibarat kehidupan, tak selalu pekat dan pahit seperti halnya kopi yang engkau minum setiap pagi. Kehidupan jua tak Serta-merta kental dan manis seperti halnya coklat yang aku minum menjelang tidur.

Sayang, Cinta adalah kita…

Cinta adalah kita yang bersenang pada cipratan noda yang berbeda.

 

 

Ketika Sama menjadi beda

Dan memilih menjadi pembeda

Lalu adakah daya kita

Ketika terhakimi oleh Dia

Dia yang angkuh membawa buku tebal

Dia yang Congkak mengacuh seakan bebal