Posted in Puisi, Antologi Dia

Puisi

menulis

 

Tuan, Puisi bukanlah tamu

Ia datang tanpa janji temu

Ia jelang tanpa hasrat tuk dijamu

Perlahan terpejam lalu timbul

Perlahan terbenam lalu muncul

Sejenak ia terbata, lalu bersyair beribu kata

 

Tuan, Puisi tak bisa dipaksa

Ia jujur mengalirpada  rasa,

Lalu tenggelam larut bersama kata

Bersama  rima memuja engkau

Bersanding bait memijah pukau

Terlahir ia sendiri, hidup bersyair tanpa mati

Posted in Puisi, Antologi Dia

Patahan 1

Ribuan nada terbelenggu pada kata hati yang bisu

Senyap terlelap pada sayup pekat pikatmu

Aku yang senada angin membias enggan melepas

Meski terhempas kala merangkaimu pada tempias-tempias paras

Engkau hikayat pekat yang telah terbuang namun terus menyerang. Melawanku, menawanku yang lemah tanpa daya. Engkau bagaikan bisikan halus, lurus pembawa terang. Memberiku cercah harap yang tak kunjung nyata. Aku yang dulu kuat, bak hikayat raja-raja pada kisah Mahabarata, tak akan menyangka akan luruh, runtuh, lusuh kala engkau meninggalkanku pada terkaman liar sang waktu. Aku bagai cendekia, terhisap pada putaran masa dan terlahir menjadi pandir. Sungguh kau seorang dengan daya magis dan sihir.

Wahai kau yang kusebut Dia, mengenangmu memeras rasa ; memerah daya, hingga jatuh aku terbuang pada labirin berputus asa. Apa kau sadar kau telah terikat pada nyawa ?, ketika engkau dekat, nyawa itu melekat menghidupiku. Ketika kau beranjak, nyawa itu bertolak  menyakitiku.

Satu perih..

Dua perih..

Tiga perih..

Entah sampai kapan aku harus berbilang, Coba kau tanya pada nyawa yang hilang. Nyawa yang ada pada dekapmu, nyawa yang tertawan pada sekapmu. Maka dengarlah Ia merintih, berbisik lirih, memintamu tuk sekedar melihat pada sebait hikayat. Sebait kita yang pernah melukis asa pada lembaran masa, sebait aku yang mengenangmu pada sebatas bisu.