Posted in random poetry

Disposisi rasa

serpih-2

Menunggu

Menantimu pada satu temu

Jangan kau kira ini perkara mudah

Menantimu tak semudah menelan ludah

===========================================

Disposisi Rasa (Paradigma Hawa)

Mereka sebut aku Durjana

Merampas hati, melemparnya sirna

Tak acuh bahwa aku pun merana

memilah rasa, menuju peterana

Lalu tahu apa kau perihal serpih

Dan sisiku yang larut terbenam perih

Rasaku pun telah letih

menantimu wahai hati terpilih

Posted in random poetry

Seringai Lampau

gugur

Seperti daun yang sedang gugur

ia melepas bukan tuk mengubur

Bersama musim ia melebur

lalu meranggas tuk bertumbuh subur

======================================================================

Seringai lampau

Pernah kucipta rasa

Lama ia singgah lalu terbenam bersama asa

Pernah kucipta rindu

Pilu ia mengganggu pada sudut balutan sipu

Wahai kau bayang kelam

Engkau hanya seringai masa lalu

Mengapa masih bergentayang menghantu ?

Kau yang menanggalku tersapu bisu

Kau yang memenggalku terjerat ragu

Wahai kau Serpih malam

Dengar ku meratap pada Alam

Daun gugur tak memuja angin

Pun jatuh bukan karena ingin

Musim memaksa  pada ketetapan

Bak tempias noktah yang tak terelakkan

Posted in random poetry

Batas Senja

senja.jpg

Jika Petrichor adalah nama dari bau hujan

maka apakah nama dari bau senja ?

Bau antara pamitnya siang dan menyusupnya malam

Batas antara parasmu dan kegilaan didalam kenang

==============================================================

Batas senja

Gelap dan larut,

memijah kita pada jurang selasar

Seakan pekat pun mesra, berpagut

Menahan kita pada emosi tak bernalar

Gugurnya daun bukan sebab salju

Pamitnya kita bukan sebab aku

Waktu melolong memisah kita yang satu

Entah dua atau empat seakan tak berbilang

Cobalah kau tanya pada sajak yang hilang

“Ya aku bahagia,” bisikku pada nurani

Berucap padamu aku tak bernyali

Takut, takut, sosok pengecut !!!

Perpisahan ini seakan menyiksaku dengan pecut

Menyisakanku pada angan semu

Akankah kita bertemu pada satu ranah ?

Posted in random poetry

malaikat anonim

ibu.jpg

Malaikat Anonim

Aku percaya bahwa Tuhan telah mencipta berjuta malaikat, sedemikian banyaknya sampai kita tak mengenal mereka satu-persatu. Aku pun tak pernah mafhum, bahwa selama ini satu dari mereka telah rela memotong sayapnya tuk melahirkanku

Malaikat ini dengan berani telah bertaruh nyawa membawaku pada dunia, bertarung dengan pedih yang memeluk remuk sekujur rusuk, kemudian mendekapku pada hangatnya sebuah peluk

Tahun demi tahun berlalu namun dia tak pernah bosan, membesarkan tanpa sekalipun menuntut balasan. Malaikat itu jua yang senantiasa menuntun, mengajarku berbahasa pada sela rapuh dunia dan menjagaku dari batas amuk semesta

Aku hanya bisa pasrah, melihatnya yang Terkadang terlihat lelah, memikul beban hidup yang tak pernah ramah. Namun tak pernah sekalipun aku melihatnya berkesah, walaupun hal tersebut tergambar jelas lewat urat-urat tuanya yang indah

Pernah ada tanya  tentang apa arti hadirnya dialam hidupku. Maka lantang kujawab bahwa dia adalah semesta, dimana padanya jingga akan tunduk menjadi sayup senja, dan kerlap akan terburai menjadi rasi bintang pada malam yang kelam. Dia paduan kata indah dan cinta yang kemudian melebur dan membentuk sinonim,

Dam dialah sosok malaikat anonim

======================================================================

 Malaikat Anonim

Cintamu abadi

Mengalir pada sela denyut nadi

Lekat tak kenal pisah

Tulus tak kenal jengah

Menuntunku pelan disela sayap patah

Kusebut kau Malaikat anonim

Dimana padamu tulus telah bersinonim

memberi kasih tak kenal puji

Bermandi perih menahan caci

Maka Bersamamu serta kupanjat Doa

Kelak Pencipta menempatkanmu pada Surga-Nya

Posted in random poetry

pengelana mimpi.jpg

Cinta itu sederhana

namun terkadang kita yang membuatnya rumit dengan bayangan-bayangan yang tak jelas rimbanya

Cinta itu sederhana

Cukuplah kita selalu ada untuknya

tak perlu bermewah-mewah, ataupun berlebih-lebih

Ada dan membantunya melawan dunia sudahlah cukup

Dan cinta itu sederhana

tak usah meragu dan berlama-lama menimbangnya

Engkau bukan pengelana mimpi

yang hidup Hanya sebatas pada mimpi dan impian untuk membahagiakannya

Engkau hidup bukan untuk bermimpi

Tapi untuk mengupayakannya menjadi nyata

=============================================================================

Pengelana mimpi

Cintamu padanya sebait jingga

Sederhana dan penuh sahaja

Sedang cintaku sepatah pahit

Abstrak, penuh  risalah rumit

Adalah aku pengelana mimpi

Hanyut larut kupeluk sendiri

Surut pada tatapmu

Turut sela hadirmu

Terbata…

Aku berkutat mengeja

Merabamu pada buta bunyi

Wahai kau bidadari mimpi

Posted in random poetry, Uncategorized

Tersesat

tersesat

Aku berlari lalu tersesat

Menuju hutan gundul yang kini kian melebat

Menoleh kiri tak bisa kembali

Menoleh kanan pun tak ada jalan

Hanya meringkuk berteman sunyi

Luluh merasuk bertabuh janji

 

Ajari aku menghapusmu

Menghapus hutan kenang, yang kini meraja semu

Menghapus kisah petang yang kini kian melantang

Lalu biarkan aku merajah tenang

Seperti hujan yang kini menjadi genang

Seperti mendung yang kini menjadi terang