Posted in Uncategorized

Beku

bekuWaktu memenjaraku pada beku,
dan gigil kerap berhembus menghantu
Mencoba menetes tapi tak bergerak
Mencoba mengalir namun terbata jarak
Hanya terdiam, merasuk memendam
Pada serpih paras yang larut dalam kenang

Posted in Uncategorized

Pemuja

pemuja

Sebuah Cerita paling menyedihkan tentang cinta

Alkisah pada suatu kala, seorang lelaki suram”memuja wanita anggun

Sang wanita anggun tentu bergelimang cinta

namun ada yang mencintainya hanya karna harta

hanya karna Gengsi dan posisi

atau hanya sekedar menjadikannya pelarian

Hanya Lelaki Suramlah yang bisa mencintainya dengan tulus

Akan tetapi…

Lelaki suram takut menyatakan ketulusannya

Dia merasa rendah dan takut tak pantas bersanding dengan wanita anggun

Sampai akhir hayatnya lelaki suram hanya berada pada batas Pemuja

Dan wanita anggun tetap bergelimang cinta

Meski sampai akhir hayatnya Ia berkutat pada cinta yang salah

serta tak merasakan bagaimana rasanya dicintai secara “Tulus”

Jadi

Siapakah yang paling menyedihkan

Lelaki suram yang hanya sampai batas “pemuja” kah

atau Wanita anggun kah ?

atau kisah ini ?

yang mungkin saja sedang  terjadi pada kamu 🙂

 

Sang Pemuja

Mungkin aku sosok mati

Membisu kaku

Tanpa rasa

Tanpa warna

Sendiri pada ketidakberdayaanku

Membagi hati, membagi bisu

 

Aku diam pada isak yang bungkam

Tak sanggup berkata walau telah diujung rasa

Terjebak pada sesak tak berjarak

Menatapmu aku ingin menyapa pada teriak

Namun apalah aku

Hanya sosok mati,

Berkicau sendiri pada rasa tak terperi

Posted in random poetry, Uncategorized

Tersesat

tersesat

Aku berlari lalu tersesat

Menuju hutan gundul yang kini kian melebat

Menoleh kiri tak bisa kembali

Menoleh kanan pun tak ada jalan

Hanya meringkuk berteman sunyi

Luluh merasuk bertabuh janji

 

Ajari aku menghapusmu

Menghapus hutan kenang, yang kini meraja semu

Menghapus kisah petang yang kini kian melantang

Lalu biarkan aku merajah tenang

Seperti hujan yang kini menjadi genang

Seperti mendung yang kini menjadi terang

 

Posted in Uncategorized

Random Word

cemra

Lembut aku terhanyut

Bersama sayup rindang dan hujan yang kuyup

Terdiam pada tegun dan tergoda

Serpih bayang menetes bagai pekat lekat noda

 

Lelah, penuh kesah

Ingin berbagi namun pada entah

Ingin teriak namun belantah

Maka aku gila, memecah tanpa arah

Lalu mendesah pada desir-desir patah

 

Seruanku memanggilmu

Menembus lebat badai dan gelegar petir

Sempatkanlah mendengar bisik

Dimana pada perih ia membunyi lirih

Lalu temukan aku

Pada pojokan retorika ringkuk

Dibalik akar cemara bungkuk

Posted in book, Uncategorized

Chocolate

chocolate.jpg

Kini aku mengerti, walau mungkin sudah terlambat.

Aku mengerti bahwasanya cinta itu bebas, maka sepantasnya aku menjadikannya pembebas

Aku mengerti bahwasanya cinta itu kuat, maka sepantasnya aku menjadikannya penguat

Aku mengerti bahwasanya cinta itu lekat, maka sepantasnya aku menjadikannya perekat

Cinta bukanlah dunia yang monoton…

Dimana aku harus menyukai music rock yang selalu kau dengarkan dipagi hari

Cinta itu berwarnanya aneka, tak harus sama

Seperti engkau yang memilih pekat dan pahitnya kopi, sedangkan aku memilih kental dan manisnya coklat

Bukankah menyenangkan, kita yang berkembang ketika saling melihat dunia yang berbeda ?

Ibarat kehidupan, tak selalu pekat dan pahit seperti halnya kopi yang engkau minum setiap pagi. Kehidupan jua tak Serta-merta kental dan manis seperti halnya coklat yang aku minum menjelang tidur.

Sayang, Cinta adalah kita…

Cinta adalah kita yang bersenang pada cipratan noda yang berbeda.

 

 

Ketika Sama menjadi beda

Dan memilih menjadi pembeda

Lalu adakah daya kita

Ketika terhakimi oleh Dia

Dia yang angkuh membawa buku tebal

Dia yang Congkak mengacuh seakan bebal

 

Posted in Uncategorized

utopia

UTOPIA.jpg

 

Kita sepasang gila,

Yang Bernafas pada batas-batas waras

Meramu cumbu pada debu-debur tabu

Mengoyak segala senyawa norma

 

Kita sepasang gila

Bukan bersih serupa putih

Pun tak jua legam serupa hitam

Adalah kita mencipta warna

Lalu melukis segala wahana

 

Kita sepasang gila

Dulu…

Sekarang dipaksa menelan obat waras

Dan kemudian menjadi mawas

Namun jujur…

Aku rindu masa kita tertawa acak

Dan delusi pada utopia yang kini telah koyak